Arcadiusmichael’s Blog
A Blog.com weblogManusia Bionik
Posted by Tomy Michael in Feb 01, 2010, under Uncategorized
Manusia Bionik
Sampul NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA edisi Januari 2010 benar-benar cerdas. Semangat hidup membara seorang prajurit walaupun kedua kakinya hancur. Saya juga benar-benar salut atas ketekunan para ilmuwan dunia untuk menciptakan kemudahan bagi penyandang cacat. Mereka mampu membangkitkan mimpi para penyandang cacat untuk bersaing dengan manusia dengan organ tubuh yang lengkap. Sebab mereka (penyandang cacat) tetap memiliki hak yang sama layaknya individu normal.
Apalagi artikel yang membahas mengenai perdagangan satwa liar legal. Sedih juga melihat seekor beruang terlentang tidak berdaya (halaman 62-63).
Saya tidak habis pikir, bagaimana jadinya apabila kira-kira 50 tahun mendatang, tidak terdapat seekor jenis satwa yang hidup di muka Bumi ini.
Tampaknya kita harus sesegera mungkin (sebelum sangat terlambat) menjaga habitat seluruh satwa di manapun berada. Begitu juga dengan beraneka jenis tumbuhan.
Satu lagi, melihat foto pada halaman 124-125 mengingatkan saya betapa nikmatnya masakan sup kepala ikan. Matur nuwun… (NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA, Februari 2010).
Negeri Tambal Sulam
Posted by Tomy Michael in Jan 09, 2010, under Uncategorized
Negeri Tambal Sulam
Hingga awal tahun kesepuluh dari milenium ketiga ini, negara Indonesia masih saja mendapat julukan sebagai “negara berkembanmg”.
Kita masih belum mampu menerima kritik dari dalam negeri ini untuk kemajuan bangsa Indonesia. Padahal, kita seringkali memberi pujian bagi negara lain, dan apakah makna dibalik pujian tersebut? Kita merasa takut menjadi seorang kritikus (dalam segala hal) di dalam negeri sendiri.
Banyak pemimpin di negara ini yang berpikiran pragmatis. Mereka takut memberi kritik untuk negeri sendiri. Mungkinkah karena banyak para generasi muda melanjutkan studinya di luar negeri?
Kritik yang membangun sangatlah diperlukan. Seperti halnya seorang artis Hollywood yang rela menjadi bahan cemooh dari para kritikus mode mengenai pakaian yang digunakannya.
Tidak ada salahnya, kita mencontoh kebesaran hati dan reaksi positif artis Hollywood dalam menerima kritik terhadap dirinya. Mudah-mudahan di sepanjang tahun 2010, kritik tetaplah menjadi salah satu cambuk semangat bagi kita semua agar lebih maju lagi. (Duta Masyarakat, Selasa 5 Januari 2010).
FOR HIM MAGAZINE INDONESIA
Posted by Tomy Michael in Dec 12, 2009, under Uncategorized
FOR HIM MAGAZINE INDONESIA
STORY OF THE MONTH
Saya berangkat ke Bali dari terminal Bungurasih, Surabaya, jam 8 malam, dengan posisi duduk samping toilet bis. Setelah duduk, kok saya punya feeling tidak enak. Padahal saya duduk bersebelahan dengan wanita seksi berbaju menggoda. Ah, ternyata ini karena sebelumnya saya makan rawon. Setelah bis berangkat, tiba-tiba perut saya ingin berontak ingin BAB. Saat bis memasuki gerbang tol, saya pun mulai “menabung” di toilet. Tapi kejadian ini terus berlanjut hingga bis keluar dari tol. Saya terus tidak berhenti bolak-balik toilet. Mungkin juga karena AC dalam bis sangat dingin. Akhirnya saya minta bertukar posisi tempat duduk dengan gadis tadi secara hormat agar saya bisa lebih cepat ke toilet. Sayangnya jatah air di toilet hanya dua ember. Dan itu pun sudah saya gunakan. Masuk ke empat kalinya saya BAB, terjadi accident. Celana dalam (cd) saya jatuh ke dalam lubang kakus yang belum disiram. Ruang yang kecil dan sudah habisnya air untuk bilas, membuat saya harus membuang cd itu bersama kotoran-kotoran perut saya. Mau ganti cd baru pun cukup rumit mengingat tas saya ada di dalam bagasi. Akhirnya selama perjalanan yang dingin oleh AC saya tidak memakai pakaian dalam dan duduk tenang di samping wanita seksi tadi. Tetapi accident kembali terjadi. AC dingin dan bersebelahan dengan wanita seksi membuat “adik” saya tidak tenang dan terus berontak menyentuh celana jeans. Saya benar-benar merasa tidak nyaman bergoyang di balik celana jeans yang agak ketat. Sesampai di Bali, “adik” saya lecet semua. Dan liburan di Bali saya lalui tanpa harus berendam di air laut karena masih lecet dan linu. (FOR HIM MAGAZINE INDONESIA, Desember 2009).
Mereka Butuh Perhatian Lebih
Posted by Tomy Michael in Dec 08, 2009, under Uncategorized
Mereka Butuh Perhatian Lebih
Bagaimanakah pelaksanaan kesejahteraan sosial di pulau-pulau terpencil Indonesia? Apakah jaminan sosial telah terlaksana dengan baik seperti di kota-kota besar Indonesia? Jawabannya: tergantung kemauan pihak yang melaksanakannya.
Masih banyak individu yang memiliki kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada fakir miskin, para lanjut usia, para penyandang cacat, para mantan pejuang, dan lain sebagainya. Mereka membutuhkan perhatian lebih dalam arti terpenuhinya kebutuhan spiritual dan sosial warga negara agar memperoleh kehidupan yang layak.
Banyak juga individu yang merelakan seluruh hidupnya untuk bergelut dengan sesuatu hal (berkaitan dengan orang banyak).
Mereka melakukannya dengan tulus tanpa pamrih. Tetapi kita dapat melihat, mereka kerapkali menjadi nomor dua dalam hal apapun.
Negara seolah-olah tidak peduli terhadap hidup mereka. Negara seringkali bertingkah layaknya ibu tiri yang kejam terhadap anak angkatnya.
Beruntung saja telah muncul Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. Walaupun undang-undang ini munculnya sangat telat, mengingat telah lamanya bangsa ini gagal menciptakan rasa setiakawan secara utuh terhadap sesama semenjak era tumbangnya Orde Baru, kita patut bersyukur. Undang-undang ini harus dapat diterapkan dengan optimal bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya.
Setidaknya kalimat penjelasan yang termaktub dalam Pasal 2 huruf a Undang-undang Kesejahteraan Sosial menyatakan, “�kesejahteraan sosial harus dilandasi oleh kepedulian sosial untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dengan empati dan kasih sayang (Tat Twam Asi)” benar-benar terlaksana dan dapat diresapi maknanya. Apalagi kita akan merayakan Hari Antikorupsi Internasional.
Karena aku adalah kamu dan kamu adalah aku. (Duta Masyarakat, Selasa 8 Desember 2009).
Khasiat Berterima Kasih
Posted by Tomy Michael in Dec 02, 2009, under Uncategorized
Khasiat Berterima Kasih
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berinteraksi dengan orang lain. Tidak jarang dengan adanya interaksi tersebut membuka peluang berikutnya pada kehidupan yang lebih baik lagi. Yang menjadi pertanyaan, apakah setiap interaksi selalu membutuhkan timbal balik? Jawabannya sangatlah perlu. Timbal balik disini bukanlah dalam bentuk materi melainkan sepatah kata terima kasih.
Interaksi merupakan suatu yang tidak dapat dibantah keberlangsungannya, karena kita adalah makhluk sosial. Seorang bos tidak akan pernah menjadi bos jikalau tidak memiliki pegawai dan seorang pegawai tidak mungkin menjadi pegawai jikalau tidak bekerja pada bos tersebut.
Dengan berkata terima kasih, kita mampu meluluhkan hati seseorang. Seperti seorang pengemis ketika memperoleh uang receh dari belas kasihan bagi siapapun yang melihatnya. Tentu saja, kita tidak perlu menjadi pengemis untuk mengetahui betapa dalamnya makna yang terkandung dari sebuah ucapan terima kasih.
Seorang kepala negara harus memiliki sense of humor yang mampu menarik pimpinan dari negara lain untuk bekerjasama dengannya. Kerjasama yang baik akan menjadikan hubungan kedua negara berkembang menuju sisi positif.
Seorang penonton tanpa canggung akan melakukan standing ovation tatkala pertunjukan yang dilihatnya betapa memukau hatinya. Seorang petugas kasir akan mengucapkan terima kasih pada saat dilakukannya transaksi pembayaran dengan harapan, para pelanggan akan kembali ke tempat yang sama.
Kita tidak pernah mengetahui, apakah makna dibalik ketika seseorang mengucapkan terima kasih. Uniknya lagi terima kasih tidak selalu melalui ucapan.
Bagi seorang perias pengantin, terima kasih dapat berwujud riasan sempurna bagi seorang mempelai. Bagi seorang seniman, memiliki wujud sebuah ukiran patung yang proses pembuatannya memakan waktu cukup lama. Bagi seorang guru, terima kasih dapat berwujud pemberian kemampuan daya pikir sang guru bagi seluruh murid agar menjadi individu yang cerdas.
Seperti yang diucapkan Beattie “Ucapan terima kasih membuka kekayaan hidup. Ia mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, dan bahkan lebih. Ia mengubah penyangkalan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi ketertiban, kebingungan menjadi kejelasan. Ia bisa mengubah satu hidangan menjadi pesta, rumah menjadi tempat tinggal yang membuat kita kerasan, orang asing menjadi teman.”
Perasaan gengsi dapat menghambat seseorang untuk berkata terima kasih. Kita tidak boleh larut dalam rasa frustasi sehingga kita enggan berterima kasih terhadap individu lainnya.
Kehidupan yang selalu berubah dari waktu ke waktu menjadikan kita sebagai pribadi yang tertutup. Seolah-olah kita tidak membutuhkan orang lain dalam menjalankan aktivitas hidup. Kita menjadi pribadi yang cuek sehingga diri kita sendirilah yang akan menanggung resikonya.
Terima kasih juga berkaitan dengan trust (kepercayaan). Bagaimana mungkin seorang kontraktor memiiki kemampuan untuk mengerjakan proyek milyaran rupiah jikalau pada proyek sebelumnya melakukan kegagalan. Andaikata melakukan kegagalan sekalipun, tentu saja sang kontraktor memiliki nilai lebih di mata sang pengembang.
Ibarat sebuah rumah makan yang telah memiliki nama tentu saja akan tetap ramai dikunjungi pengunjung walaupun rumah makan tersebut telah melakukan suatu kesalahan prosedur dalam hal penyajian makanan.
Demikianlah sebagian besar khasiat berterima kasih. Setidaknya berkata terima kasih lebih sulit daripada memberi nasehat kepada orang lain. Sebab berkata terima kasih dibutuhkan ketulusan hati. (Duta Masyarakat, Senin 30 November 2009).
Taat atau Takut Hukum ?
Posted by Tomy Michael in Nov 03, 2009, under Uncategorized
Taat atau Takut Hukum ?
Pada dasarnya di dalam diri manusia menginginkan suatu ketenangan dalam hatinya. Tetapi untuk memperoleh rasa ketenangan tersebut dibutuhkan suatu tembok penghalang agar seseorang tidak lepas kontrol untuk mencapai ketenangan tersebut. Hukum yang memaksa tentu saja dapat menimbulkan perasaan tenang bagi siapapun yang berusaha untuk mentaatinya dan tidak melanggarnya.
Seseorang diharuskan juga mentaati hukum akibat dirinya telah dilindungi keberadaannya secara legal. Seseorang dengan cara membayar pajak telah termasuk bagian taat hukum sebab negara telah menyediakan berbagai fasilitas kepada kita antara lain jalan raya, pendidikan, kebebasan beragama, pelayanan kesehatan, rasa aman, dan kesempatan untuk bekerja. Ketaatan demikian berlangsung tanpa perlu terlebih dahulu meminta ijin kepada masyarakat agar mematuhinya. (Duta Masyarakat, Senin 2 November 2009).
Bonbonniere Slank
Posted by Tomy Michael in Oct 29, 2009, under Uncategorized
Bonbonniere Slank
Bunga Dandelion kuning indah…
Bangunlah angin utara…
Tiuplah Slank meneteskan madu murni…
Tunasmu tetap setia menanti…
Kerinduanku mengangkat diriku…
Fajar merekah menyinarinya…
Bajuku telah kutinggalkan…
Corazon de Slank…
Menumbuhkan semangat juang…
Bertahan hidup dalam mendobrak…
Di dalam waktu tersimpan mimpi…
Aku kepunyaan kekasihku…
Jaipotawa Slank-ku …
Terdengarlah jeritan unikmu…
Membangkitkan gejolak jiwaku…
Marilah bergandengan tangan…
Bersama Slank menembus…
Relung hatinya agar…
Keburukan segera menyingkir…
Damai naluri Slank…
* Bonbonniere Slank (bahasa Italia) : Kotak Permen Slank
Slank Jaipotawa (bahasa Paraguay) : Slank yang memenuhi keinginan
Corazon de Slank (bahasa Paraguay) : Jantung Slank
(Koran SLANK Polos dan Apa Adanya, Edisi 79 Okt-Nov 09, Rabu 28 Oktober 2009).
Horor, Lingkungan, dan MYOB
Posted by Tomy Michael in Oct 29, 2009, under Uncategorized
Horor, Lingkungan, dan MYOB
Jika diajukan suatu pertanyaan “Berapa banyak jumlah pohon yang ditebang secara liar untuk dijual secara illegal…?”. Sudah pasti jawabannya sangatlah banyak. Tetapi jika pertanyaan di ubah menjadi “Berapa banyak jumlah pohon yang telah ditanam oleh pemerintah maupun diri kita sendiri…?” Jawabnya cukup satu kata yaitu “sedikit”.
Ibarat besar pasak daripada tiang. Jumlah pohon yang ditebang tiap tahunnya bertambah banyak sedangkan untuk menghasilkan satu pohon yang baik dibutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya.
Bumi sering menunjukkan murkanya pada kita semua. Terdapat berbagai jenis bencana alam. Gempa bumi yang menelan banyak korban, banjir yang memporak-porandakan suatu wilayah, tanah longsor, dan musim hujan yang tidak menentu datangnya. Aturannya ada, sanksinya pun jelas jikalau kita merusak lingkungan. Tetapi mengapa kita masih tega untuk menyakiti Bumi ini ?. Mungkin banyak dari antara kita sering mengeluh dalam merespons cuaca. Jika cuaca panas kita mengeluh kepanasan, jika hujan kita mengeluh takut banjir, jika cuaca mendung kita mengeluh bahwa jemuran di halaman belakang belum kering. Hanya musim salju saja yang tidak pernah kita keluhkan, sebab kita tidak pernah merasakan nikmatnya salju di Indonesia.
Di tempat saya (kota Malang) cuaca pada malam hari tidak jauh berbeda ketika jam menunjukkan pukul sebelas siang. Global warming menjadi suatu pemasalahan yang sering dibahas dalam hubungan-hubungan internasional. Banyak negara yang khawatir bahwa global warming sama bahayanya dengan teroris. Biarpun di jaman yang serba klik ini, tampaknya masyarakat lebih patuh pada aturan yang tidak tertulis daripada yang tertulis, khususnya di pedalaman Indonesia. Seperti masyarakat di kampung Naga Tasikmalaya menganggap bahwa hutan di sekitar wilayah kampung tersebut milik leluhur mereka. Dan akhirnya masyarakat kampung Naga tidak menebang pohon karena pohon merupakan harta warisan.
Hal demikian juga terjadi di Jawa Barat. Terdapat sebuah desa yang sebagian warganya meyakini bahwa hutan (leuweung gede) di sekitar desa adalah tempat bersemayamnya para leluhur. Masyarakat dilarang memasuki kawasan hutan selain hari Senin dan Jumat. Di luar ke dua hari tersebut, masyarakat dapat “berpetualang” di hutan jika disertai seorang juru kunci dari hutan tersebut. Tidak memandang status seorang inividu, larangan untuk tidak memasuki hutan dengan alas kaki tetaplah berlaku. Tujuan tidak dikenakannya alas kaki untuk menjaga kesucian hutan. Dan yang uniknya lagi, keluar dari dalam hutan pun kita dilarang membawa sesuatu yang terdapat di kawasan hutan.
Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk menciptakan sesuatu yang baik tidak hanya dibutuhkan suatu aturan yang tegas namun kesadaran yang tinggi. Faktanya untuk melestarikan lingkungan “hanya” dibutuhkan suatu isu mistis. Tetapi mampukah isu mistis tersebut diterapkan pada individu yang hidup di kota-kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Rasanya tidak mungkin isu mistis mengendalikan pikiran kita. Yang dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan hanyalah suatu sanksi yang berat dan harus benar-benar dilaksanakan. Karena akan sia-sia jika aturan tidak dilaksanakan dengan tepat.
Sanksi dalam suatu aturan yang pada umumnya sebagai alat pemaksa agar seseorang mentaati norma-norma yang berlaku tampaknya tidak berlaku lagi. Malahan sanksi tersebut menjadi “alat pemaksa” bagi korban untuk berusaha “damai” dengan hukum. Ajaran dari Von Feuerbach tidak “berlaku” lagi.
Berapa banyak lahan yang seharusnya digunakan untuk bertumbuhnya suatu pohon dijadikan sebagai komplek perumahan. Banyak peraturan daerah namun semuanya tampak tidak bertaring. Walaupun pada saat ini pemerintah mulai aktif untuk mengalakkan penghijauan. Masih ada saja individu yang tidak peduli dengan alam.
Kita sering menjumpai seseorang yang dengan seenaknya mengepulkan asap rokok sembarangan, membawa banyak tas plastik dari suatu mall demi gengsi semata, serta penggunaan kendaraan pribadi secara berlebihan. Pemerintah masih enggan untuk memberi sanksi bagi seseorang yang telah merusak lingkungan. Pemerintah lebih bernyali memberi sanksi kepada perusahaan-perusahaan besar yang mencemari lingkungan.
Anthony de Mello dalam bukunya berjudul “Burung Berkicau” menceritakan bahwa di suatu desa hiduplah seorang kakek. Suatu kali, kakek ini bermimpi bahwa desanya akan diguyur hujan beracun. Siapapun yang minum air di desa tersebut akan menjadi tidak waras. Kemudian kakek tersebut memberitahukan pada semua penduduk desa namun tidak ada seorangpun yang percaya. Akhirnya kakek ini mengumpulkan air bersih untuk persiapan dirinya sendiri. Akhirnya hujan turun dengan deras, sungai desa menjadi tercemar. Seluruh penduduk desa menjadi hilang ingatan setelah meminum air sungai tercemar itu kecuali sang kakek. Teapi anehnya, dua minggu kemudian akibat rasa sepi di desanya. Kakek yang dulunya waras ini, memutuskan minum air dari sungai tercemar dan ikut menjadi hilang ingatan seperti penduduk lainnya.
Kita juga sering berperan sebagai penduduk desa dalam cerita di atas dan berpikiran Mind Your Own Business (MYOB) atau sering disebut “Emangnya gue pikirin” terhadap lingkungan sekitar. Sebab jika kita merasa tidak peduli terhadap segala sesuatu maka hal tersebut tanpa kita sadari bahwa kita sedang berkata “tidak bisa”. Artinya kita sedang “membangun” mental block (tembok kegagalan). Kalah sebelum bertanding.
Kita harus tetap memikirkan keadaan alam dalam jangka waktu panjang. Ukuran Bumi tidak bertambah besar sedangkan jumlah penduduk di dalamnya bertambah banyak tiap tahunnya. Patut disadari, kegiatan melestarikan lingkungan bukanlah suatu perkara mudah. Dibutuhkan kerjasama dan kesadaran tinggi dari seluruh pihak tanpa terkecuali. Kita tidak bisa memberi label pada diri orang lain bahwa hanya dialah yang wajib menjaga suatu lingkungan.
Biarpun suatu saat nanti entah kapan waktunya, jika planet Mars dibuka untuk umum. Maka kita tetap harus melestarikan keadaan di Bumi. Sebab selamanya kita hidup beralaskan tanah dan beratapkan langit.
Kita tentu saja berharap pemerintah benar-benar menganut pepatah latin “Fortiter in re, suaviter in modo” yang mengandung pengertian bahwa tegas dalam perkaranya dan lemah lembut dalam caranya.
Sudah saatnya kita tidak lalai dalam merawat Bumi. Recycle, menghindari penggunaan segala sesuatu yang terbuat dari palstik. Reduce, mengurangi penggunaan bahan bakar serta benda-benda yang merusak ozon. Reuse, menggunakan kembali barang-barang yang telah ada. Dan remind, berpikir kembali. (Duta Masyarakat, Kamis 22 Oktober 2009).
Wallet Sciatica
Posted by Tomy Michael in Oct 15, 2009, under Uncategorized
Banyak orang yang mengeluh akibat tidak memiliki cukup uang untuk memiliki sesuatu. Ada juga orang yang seakan-akan tidak pernah berkekurangan dalam hal materi namun hatinya tetap saja tidak merasa puas.
Walaupun negara Indonesia kerapkali dilanda oleh bencana, mengapa masih banyak para individu yang terseret ke pengadilan akibat kasus korupsi ?Hingga presiden SBY mendapat julukan “presiden lindu” (guyonan dalam suatu kelompok pertemanan dunia maya).
Seperti artikel dalam suatu majalah yang mengatakan bahwa berdompet tebal dapat menjadikan pemiliknya menderita penyakit “pegal gara-gara dompet” atau “wallet sciatica”.
Dompet yang tebal tersebut akan menekan saraf sciatic. Akibatnya timbul rasa tidak nyaman berupa pegal, nyeri, dan kesemutan mulai dari bagian tubuh bawah pinggang ke tumit.
Mudah-mudahan saja tidak akan pernah ada kejadian ditundanya pelaksanaan sidang suatu kasus korupsi karena tersangkanya mengalami penyakit wallet sciatica. Dua cara yang tepat untuk menghindari gangguan aneh ini yaitu tidak menyimpan dompet di bagian saku belakang dan mengurangi nafsu untuk berkorupsi.
Dompet tipis (jujur) lebih baik daripada dompet tebal (tidak jujur).
(Duta Masyarakat, Kamis 15 Oktober 2009)
Cocorbebek Di Atap
Posted by Tomy Michael in Oct 10, 2009, under Uncategorized
Cocorbebek di Atap
Kota Malang tampaknya semakin hari semakin panas. Masih banyak individu yang bebas mengepulkan asap rokok dengan sembarangan, asap dari pabrik-pabrik, asap dari kendaraan bermotor yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, dan lain-lainnya.
Sedangkan untuk memaksimalkan ruang hijau dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Seperti halnya ruang yang tidak digunakan di kota-kota metropolis modern dapat menjadi “lahan pertanian” produktif berkat kemajuan-kemajuan dalam membuat atap hijau kedap air.
Kita pun bisa juga membantu planet Bumi agar tetap sayang pada penduduknya yaitu dengan menggunakan atap bangunan rumah ataupun gedung pemerintahan sebagai media tumbuhnya tanaman.
Tidak perlu menggunakan tanaman yang harganya selangit. Di salah satu atap rumah sakit di Swiss menggunakan tanaman Cocorbebek untuk menciptakan oksigen baru.
Atap hijau ini dapat mengurangi panasnya cahaya matahari, menyerap hujan, dan mengurangi volume air.
Marilah kita mencontoh Piitsburg sebagai kota terdepan dalam kelestarian lingkungan. Setidaknya dengan atap hijau ini, kita dapat mengurangi penggunaan AC di tiap-tiap kamar.
Dan yang pasti bangunan beratap hijau akan lebih nyaman dipandang oleh mata daripada genteng yang berlumut apalagi sambil bersantai di atap rumah pada malam hari sambil menikmati Hakutsuru (sake khas negara Jepang).
Begitulah kita harus bersikap tak ceroboh. (Duta Masyarakat, Jumat 9 Oktober 2009).
Looking for something?
Use the form below to search the site:
Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!
Archives
All entries, chronologically...